Sebuah kenyataan yang harus aku hadapi,hari ini rabu 19 April 2008.Untuk kesekian kali nya anakku Hishar yg baru berumur 3 thn menjalani serangkaian observasi yg di lakukan oleh Dr.Aditya yg bekerjasama dgn Dokter2 URM lainnya di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung.Diangonsa medis yang aku terima awal nya saat masuk RSHS tiga tahun lalu sewaktu anakku berumur 2 hari adalah Sepsi berat,dgn perjuangan yang cukup berat aku bisa lalui perjalanan hidup anakku selama 2 minggu di ruang Nicu dgn bantuan alat oksigen(ventilator)selama 5 hari dalam kotak inkubator yang di lengkapi sinar ultra violet,selang infus dan kabel2 lainnya yg menempel di tubuh,lengan dan kaki anakku.Hanya kekuatan do’a dan ketenanganku sebagai ibu kandung yg memulai dari sebuah tragedi yang setiap perempuan manapun tak akan pernah ingin mengalami dan membayangkan pun tidak.Dari semenjak kehamilan sampai kelahiran semua aku hadapi sendiri dengan tekanan dan rasa sakit di bathin yang sampai kapanpun tak akan pernah sembuh dan hilang,luka bathin atas sebuah pengkhianatan dan penghinaan yg kerap aku terima dan rasakan sebagai perempuan ,ibu yang memiliki anak tanpa suami yang ada di sampingnya dan sama2 menjalani kehidupan dengan sebuah titipan ilahi.Aku yang saat itu berprofesi sebagai guru/terapis akademik anak autis dengan pendapatan yang minim di sebuah sekolah dasar inklusi berusaha utk bertahan dan berjuang yang sekali kali aku jalani sebagai seorang penyanyi hingga umur kehamilan anakku berusia 6 bulan aku masih aktif menghibur dengan modal suara khas ku,sampai larut malam aku kumpulkan sedikit demi sedikit utk biaya persalinan.Hingga usia kehamilan 7 bulan sampai menjelang persalinan aku hanya melakukan aktifitas mengajar dan dengan suport rekan2 kerja ku inilah serasa hidup dan janin dlm rahimku seakan ikut merasakan kasih sayang dan ketulusan dalam pertemanan,sehingga tumbuh dengan baik,sehat dan lincah dengan gerakkan dan tendangan yang cukup keras terasa,namun saat aku sedang mengajar pada muridku Edo yang menderita Autis ,anakku akan bersikap manis tenang dalam buaian suara2 anak2 murid lainya dan keasyikanku bersama Edo,anak seorang ibu dokter spsialis syaraf yang sangat kuat,cerdas dan tangguh yang berusaha dengan basic keilmuannya beliau berhasil meraih kesuksesan dlm menghadapi dan memilki keahlian dalam penanganan anak autis seorang diri tanpa campur tangan suami yang awal kehadiran Edo sangatlah tidak di harapkan namun sebuah ungkapan mengatakan batas antara Benci dan Cinta itu tipis.Setelah tahu kenyataannya sang suami akhirnya berbalik 180 derajat kini sang Ayah penuh dengan rasa cinta kasihnya berusaha utk menebus kekhilafannya,tp bagaimana dengan Ayah kandung anakku?wallahualam semua telah aku maafkan dan telah aku serahkan pada pengadilan sang khalik dan peganganku tak kan pernah berharap pada manusia tapi semua aku gantungkan harapanku pada sang khalik.”Sesungguhnya aku benar-benar berharap kepada Allah sehingga dengan kesabaran yang baik seakan akan aku dapat melihat apa saja yang telah dilakukan Allah kepadaku”
Setelah 2 minggu di ruang NIcu dan di nyatakan Sepsis berat,anakku di pindahkan ke ruang rawat kls 2 yang di tangani oleh 2 dokter specialis anak dan syaraf anak,krn semua menyangkut pada kondisi kerusakan pada otak dan syaraf anakku setelah melakukan hasil CT-SCAN dan EEG.Perkembangan otak kiri yang mengalami kerusakan dan syaraf yg mengakibatkan epilepsi yg pada waktu itu masih bisa di sembuhkan dengan obat dan vitamin otak.Hampir 1 bulan lamanya anaku di rawat dengan perjuangan ku dan bantuan dari kelurga dan teman2 kerja ku sekaligus pertolongan dari mamah Edo yang tak sedikitnya membantu baik moril maupun materil.Tapi semua itu tak semudah orang bayangkan,di hari terakhir anakku berada di RSHS dan di nyatakan bisa di bawa pulang aku harus menghadapi perjungan yg cukup berat antara senang anakku dapat pulang dengan keadaan hidup dan biaya ruangan yang lumayan besar jumlahnya sementara uang yang di dapat belum terkumpul sesuai dengan jumlah tagihan.Ada kekurangan yang hanya bisa diteloransi dengan memberi ku waktu 1 minggu berada di ruang rawat utk mendapatkan sisa nya ,tp tekadku sudah bulat hari ini jg aku harus membawa pulang anakku,sudah terlalu menyiksa buatku berada di RS.Aku mulai dari jam 9 pagi utk bergerak mencari uang yg kurang sampai akhirnya tepat jam 3 sore alhamdulilah aku mendapatkan nya dgn kaki yg sudah tak kurasakan lagi berpijak pada tanah dan rasa lapar yg sudah tak bisa kurasakan,dengan perasaan lega tanpa air mata yang sudah kurasakan mengering,bergegas menuju loket pembayaran yg akhirnya kudapatkan tiket pulang dan seakan keluar dari lobang jarum aku seolah memperoleh suatu kemenangan dengan membawa pulang anakku.
Tak berhenti sampai disitu,aku harus kontrol sebulan sekali pada 2 dokter specialis dengan biaya yang tidak sedikit utk serangkaian obat yang harus selalu anakku minum utk perkembangan otak dan perbaikan syaraf nya.Pada saat itu dokter syaraf hanya mengatakan bahwa ada gangguan di pusat bahasa nya yang dalam perkembangan anaku akan mengalami keterlambatan wicara.Tak terbayangkan justru dalam kenyataan nya anakku jg harus mengalami keterlambatan motorik pada fisik nya.Semua itu terjadi karena kelalaian ku dan ketidakmampuanku secara finansial,pengobatan yg rutin aku lakukan hanya bertahan selama 6 bln dan hanya dgn kemampuan sebisa bisa nya melatih anakku melaui beberapa informasi baik itu dari tmn2ku yang berkecimpung di dunia anak2 berkebutuhan khusus atau info lainnya yg sekiranya bisa di terima dan dapat di sesuaikan dgn kemampuan anakku,yah semua aku lakukan krn saat anakku berumur 6 bln aku dgn terpaksa menerima putusan pihak yayasan sekolah yg tanpa alasan secara prosedure hanya krn masalah pribadi yg kuanggap ini konyol atau mungkin krn tidak suka melihat aku kerap membawa anakku ke sekolah,bila sewaktu waktu ibu sekaligus neneknya anakku sering keluar masuk rs dan akhirnya di vonis gagal ginjal yg hrs menjalani cuci darah seminggu 3 kali sehingga mengakibatkan kondisi nya lemah dan tidak bisa lagi menjaga anakku secara maksimal.
Semenjak itu pula aku seakan kehilangan segalanya,sumber penghasilan ku sudah tak ada,utk kebutuhan anaku saja aku hrs berjuang yang terkadang nyaris membuatku kehilangan muka,namun tak terlintas sedikitpun utk berbuat hal2 yg menjerumuskan atau dengan kata lain menghalalkan segala cara,seperti banyak dilakukakan oleh para perempuan yg mencari pembenaran atas diri atas nama kebutuhan hidup.Kulalalui hari-hariku bersama anakku yang secara fisik bagus perkembangannya,aku hanya bisa menunggu saat anakku berumur 8 bulan belum mampu duduk spt layaknya anak yang lain,aku berhara[ sampai usianya 3 thn anakku nyatanya belum mampu duduk dengan benar,umur 1 tahun mulai aku tunggu saat dia mulai menegakan kepala nya,meski kini terkadang mampu menegakan lehernya namun masih belum setegap anak lainnya,saat berumur 2 thn kuharap mampu duduk,berjalan nyatanya belum mampu meski tak kupungkiri ada bagian yang mengalami kemajuan.ntah lah yang pasti aku selalu di liputi kecemasan dan rasa bermasalah krn tak mampu berbuat banyak dengan segala keterbatasanku yang semakin lama sulit untuk bergerak dan mengembangkan potensi diriku yang kurasa cukup mampu dalam mencari pekerjaan guna mencukupi kebutuhan anakku tapi apa daya serba sulit utk meninggalkan dan tak ada orang lain yang bisa dan mau kutitipkan sebaik baiknya dan bisa kupercaya.Semakin berat beban yang ada di benakku terus menghantui pikiran ku,bagaimana aku harus memulai dan tak mungkin aku biarkan anakku tumbuh seadanya karena ku yakin masih banyak potensi diri nya yang harus segera di tangani dengan baik.
Sampai usia 3 thn tepatnya tanggal 5 januari anakku masih dengan kondisi nya yang belum mampu duduk dan berjalan,bicarapun hanya beberapa kata,nyaris membuatku tenggelam dalam keputus asaan,namun hati kecilku terus memberontak utk terus berujuang demi anakku.Tak lama setealah itu tgl 19 januari 2008 anakku mengalami kejang pada bagian sebelah kirinya,hal yg tak terduga sebelumnya karena sejak berumur 6 bulan anakku di nyatakan bebas obat kejang,kubawa segera dgn modal nekad dan tak sepeserpun uang yang ada ku bawa anakku yang sudah mengalami kejang hampir 1 jam lamanya dengan kondisi yang mengenaskan lemah tanpa daya bibir terkatup dan ada tetesan air liur yang kerap menetes di sela sela bibirnya,air liur yang membuat orang terkadang memandang jijik padahal lebih jijik dari air liur orang orang normal yang dari mulutnya nyaris keluar kata kata yang menyakitkan bahkan menghina.Karena ada gangguan pada motorik leher dan menelannya anak2 seperti anakku akan meneteskan air liur nya karena belum sempurna gerak menelannya.Seringkali aku harus menggantikan baju yang sudah basah oleh air liurnya dan selalu ku usap air liurnya dengan kelembutan tanganku agar anakku yang memilik wajah yang selayak nya anak normal dapat terlihat lebih bersih dan menambah kegantengannya,sekilas nampak seperti anak normal bila aku membawanya dalam gendonganku yang telah usang,orang akan mengira anakku sakit atau manja karena dengan postur nya yang tinggi masih selalu ku gendong atau menggunkan kereta dorong pinjaman dari sepupuku.Untuk bergerak bebas anakku di rumah menggunakan baby walker yang sudah berumur satu tahun sebuah pemberian temanku orang india yang kini entah berada di belahan dunia mana.Thanks Gowthama for yr attention ,sesampai di ruang ugd rshs anakku langsung mendapat penanganan yang akhirnya diagnosanya epilespi partial kompleks,mikrosepal dan Cerebral palsy.Selama 1 minggu anakku di rawat dengan serangkaian test dan beberapa dokter ahli maupun para asisten dokter sampai para terapis ikut memeriksa kondisi anakku.
Mulailah babak baru dan menjadi pintu pembuka buat anakku,seoarang dokter fisioterapy melakukan penanganan awal dengan kejeliannya beliau menemukan sesuatu yang jagal pada anakku ,yang berbeda dengan kondisi anak penderita cerebral palsy lainnya.Banyak perilaku dan motorik nya yang overleap istilahnya loncat loncat perkembangannya.Yang akhirnya dapat di simpulkan anakku harus di lakukan program khusus penangannya,observasi dilakukan beberapa kali dan saat hasil presentasi anakku memang kasus baru utk penderita cerebral palsy,hatiku seakan lemas saat dengan hati2 dan terinci Om dr menerangkan bagaimana pola program yang akan disesuaikan dengan kebutuhan anakku,bahkan alat alat yang harus di gunakan sebagai penunjang program fisiotefi anakku yang mulai dari leher,badan dan panggul masih belum stabil sementara kaki nya sudah memiliki kekutan dan tangan yang sudah dikatakan cukup aktif untuk melakukan gerakan.
Ntahlah,apa aku bisa kuat utk menghadapi hal ini,berapa biaya yang harus aku usahakan,semua kuserahkan pada sang khalik karena sebulan sekali anakku harus melakukan kontrol utk tindakan medis nya dengan setiap hari meminum obat anti kejang dan melakukan fisioterafi yang ntah berapa kali di lakukan dalam seminggu,karena utk sementara anakku menjalani fisioterafi sebulan 2 kali yang di lanjutkan setiap hari aku melatihnya di rumah,utk sosialisasi anakku sangat bagus mungkin karena aku mebiaskan nya utk berbaur dengan teman2 nya,meski kadang dengan keterbatasannya dia seringkali menangis karena tak mampu ikut berlari dan mengejar saat di tinggalkan sendiri.Dan hanya bisa menangis ingin di bawa keluar saat telinganya mendengar suara keceriaan teman2 nya di luar halaman rumah.Tiap pagi anakku akan mengajakku berdiri di sudut gang utk menyaksikan teman2 nya berlalu lalang berangkat sekolah dan bila kutanya “Hishar mau sekolah?”dia akan menjawab bhs yang hanya mampu dia ucapkan ngeh sebagai arti iya dan akan menujukan ekspresi cerianya.Dengan senyum yang teramat manis meski harus selalu kuusap air liurmu nak,sebuah ungkapan Kata orang ,hidup ini penuh dengan kesedihan dan kemurungan,maka kujawa”Tersenyumlah!Biarlah kemurungan hanya terjadi di langit (saat sedang mendungnya)”
Trimakasih utk Om dokter Aditya ,tante dokter Tamara
Peluk cium dan kasih sayang utk tante Dhita,tante fiena,wa lili
ucap trimakasih utk teman di fs dan Ym yang selalu memberi do’a utk kesembuhan anakku
Bunda love Hishar
Posted in Uncategorized